Menggapai Makna Isra' Mi’raj Bersama Ustadz Depir
Ustadz Depir, menyampaikan tausiah Isra' Mi'raj di Masjid Istiqamah desa Leubang
Simeulue, indometro. Id - Langit malam di Desa Leubang kecamatan Teupah Barat kabupaten Simeulue terasa begitu hening, seolah menyambut peringatan Isra Mi’raj yang penuh hikmah. Di sebuah masjid sederhana, mesjid Istiqamah desa setempat, puluhan warga berkumpul, duduk khusyuk mendengarkan tausiyah dari Ustaz Depir, seorang pendakwah yang dikenal dengan gaya ceramahnya yang menyejukkan hati.
Peringatan Isra Mi’raj kali ini bukan hanya momen mengenang perjalanan agung Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ajang refleksi bersama tentang hakikat kehidupan dan ibadah.
Menghayati Perjalanan Agung Rasulullah SAW
Ustaz Depir membuka tausiyahnya dengan kisah awal perjalanan Isra Mi’raj, sebuah peristiwa luar biasa yang terjadi pada malam ke-27 bulan Rajab. Dengan suaranya yang tenang namun penuh penekanan, ia menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, lalu menuju Sidratul Muntaha, tingkatan langit tertinggi.
“Kendaraan yang digunakan Rasulullah disebut buraq, yang kecepatannya melampaui imajinasi manusia,” tutur Ustaz Depir. “Di perjalanan, Rasulullah menemui berbagai simbol dunia yang penuh godaan, seperti seorang gadis cantik yang memanggilnya. Namun, dengan peringatan Malaikat Jibril, Rasulullah tetap teguh melanjutkan perjalanannya.”
Di setiap kisah yang diceritakan, jamaah tampak terdiam, merenungi makna dari perjalanan suci tersebut. Ustaz Depir juga mengisahkan pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa AS di langit keenam. Dari sanalah muncul permohonan agar jumlah shalat yang semula 50 waktu dikurangi menjadi lima waktu, sebuah kewajiban yang menjadi inti dari ibadah umat Islam hingga kini.
Pelajaran dari Keyakinan Abu Bakar
Kisah lain yang disampaikan Ustaz Depir adalah respons masyarakat Quraisy terhadap peristiwa Isra Mi’raj. “Di tengah cemoohan Abu Jahal, Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri tegak membela Rasulullah. Ia percaya penuh tanpa ragu, ujar sang ustaz dengan penuh semangat. “Dari Abu Bakar, kita belajar pentingnya keyakinan kepada kebenaran, meski dunia seolah tidak mendukung.”
Shalat Sebagai Tiang Agama
Dalam tausiyahnya, Ustaz Depir menekankan pentingnya shalat sebagai pondasi utama dalam kehidupan beragama. Ia mengingatkan jamaah bahwa shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bentuk komunikasi langsung dengan Sang Pencipta. “Barang siapa yang mendirikan shalat, ia telah mendirikan agama. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan shalat, berarti menghancurkan agamanya sendiri,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. “Harta, jabatan, dan segala kenikmatan dunia akan hilang. Yang kekal hanyalah akhirat. Maka, mari kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang sebenarnya,” ujarnya, membuat suasana menjadi begitu syahdu.
Menghidupkan Semangat Keimanan
“Semoga kita semua diberi kekuatan untuk terus menjalankan shalat dan menjaga nilai-nilai agama,” pesan terakhir Ustaz Depir sebelum jamaah bubar.
Langit malam bersama turunnya hujan, namun semangat yang ditinggalkan oleh kisah perjalanan Rasulullah SAW terasa membekas di hati setiap orang. Di Desa Leubang, Isra Mi’raj menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup manusia, sesulit apa pun, akan terasa ringan jika dijalani dengan keimanan yang kokoh.
Acara ditutup dengan doa bersama, dipimpin langsung oleh Ustaz Depir. Jamaah menundukkan kepala, memohon keberkahan dan kekuatan iman untuk menghadapi kehidupan. Bagi masyarakat Desa Leubang, peringatan Isra Mi’raj ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi sebuah momen penting untuk kembali mengingat perjalanan Rasullullah akan penting nya mendirikan shalat dan menguatkan hubungan dengan Allah SWT. (A²n)
Posting Komentar